Rabu, 20 Agustus 2014

Gereja Peduli Lingkungan

(Semiloka Gereja Peduli Lingkungan “Merawat Lingkungan Berbagi Kehidupan” Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah (SW) Jawa Tengah)

Krisis lingkungan hidup (ekologis) merupakan masalah besar yang menjadi ancaman bagi keberlangsungan kehidupan di bumi. Perubahan iklim merupakan salah satu contoh nyata yang mengakibatkan berbagai bencana di muka bumi. Selain itu, perubahan iklim juga mengacaukan keseimbangan alam termasuk rusaknya sistem pertanian yang berakibat pada ancaman terhadap ketersediaan pangan. Krisis tersebut tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia dan gaya hidupnya yang eksploitatif terhadap alam. Manusia hanya memikirkan apa yang baik bagi spesies manusia dan bahkan tak segan-segan mengorbankan mahluk hidup lainnya.

Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah (SW) Jawa Tengah menyadari panggilannya untuk merawat dan berbagi kehidupan sebagai bagian dari Misi Allah untuk memelihara dan menjaga keutuhan ciptaan. Oleh karena itu, Departemen Kesaksian dan Pelayanan GKI SW Jateng mengadakan Semiloka Gereja Peduli Lingkungan dengan tema “Merawat Lingkungan Berbagi Kehidupan”, pada tanggal 14 – 16 November 2013 bertempat di Griya Sejahtera Ngablak, Kopeng Jawa Tengah. Harapannya, Semiloka ini dapat menghasilkan perspektif GKI (SW) Jateng atas krisis ekologis yang terwujud dalam usulan garis besar arahan dan perencanaan program terkait lingkungan hidup. Selain itu, Semiloka ini juga menghasilkan rencana tindak lanjut berupa gerakan bersama yang dapat disosialisasikan dan direalisasikan oleh Jemaat-Jemaat GKI SW Jateng baik di tingkat klasis maupun lokal.

Semiloka ini dihadiri oleh utusan dari masing-masing klasis Sinode wilayah Jawa Tengah, Romo Andang L. Binawan, SJ. (Dosen STF Driyarkara-Jakarta & penggerak Sadar Lingkungan Di Keuskupan Agung Jakarta) menjadi salah satu nara sumber, beliau mengatakan manusia saat ini terjangkit sindrom NIMBY “ Not In My Back Yard “atau tidak peduli dengan lingkungan, sampah bisa dibuang di mana saja asal tidak merepotkan dan tidak mengotori wilayah saya.            
Paradigma lama tentang Kata “membuang sampah” hendaknya diganti dengan kata “menaruh sampah” maka kesan sampah sebagai bahan buangan bisa diubah menjadi bahan yang beguna bagi manusia. Usia sampah bisa diperpanjang dengan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Jika pola ini telah mengakar pada masyarakat, maka dengan sendirinya akan tercipta “habitus” sadar lingkungan yang sangat penting pada upaya pelestarian lingkungan.

Turut hadir dalam dalam kegiatan ini BSMJ (Bank Sampah Mahasiswa Jogja). Komunitas ini membagikan pengalaman sejarah terbentuknya lembaga yang muncul ditengah keresahan akan semakin apatisnya kaum muda khususnya mahasiswa Yogyakarta dalam melestarikan lingkungan. Bank sampah juga bercerita tentang pengalaman mengelola sampah plastik dan berkebun di lahan sempit dengan penyediaan kompos mandiri. Pengalaman kecil mereka diharapkan dapat menginspirasi gereja untuk mulai melakukan sesuatu demi terciptanya lingkungan hidup yang lestari bagi kelangsungan hidup manusia saat ini dan di masa yang akan datang.
       
Semilloka tersebut menghasilkan pemetaan masalah : sampah yang tidak dapat terurai, kerusakan ekosistem, alih fungsi lahan, polusi udara, dan eksploitasi air, yang nantinya akan diangkat menajdi usulan garis besar arahan dan perencanaan program terkait lingkungan hidup Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah (SW) Jawa Tengah.

Mari kita dukung gereja menciptakan rumah yang baik bagi makhluk hidup. SRB

Jumat, 15 Agustus 2014

I’m An Earth Keeper

(Bedah Film Rain Forest dalam rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup, oleh BSMJ & GMKI Cabang Yogyakarta)

Lingkungan hidup sudah berumur sangat tua, semakin tua usia, semakin rentan pula hidup si pemilik usia. Lingkungan butuh upaya perawatan untuk menunjang kelangsungan hidup. Namun, sampai saat ini hanya segelintir umat manusia yang melakukannya. Fakta membuktikan bahwa golongan tualah yang berperan aktif merawat lingkungan. Kemana kaum muda? Apa jadinya jika suatu saat golongan tua “purnawirawan” dalam misinya? Oleh sebab itu, dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup dan sebagai upaya untuk menarik minat kaum muda agar lebih dekat pada alam, Bank Sampah Mahasiswa Jogja (BSMJ) bekerja sama dengan GMKI cabang Yogyakarta mengadakan bedah film Rain Forest bertempat di Aula tiga, Wisma Imanuel BKS PGI-GMKI, Samirono Baru, Yogyakarta (11/06/2014) dengan nara sumber Ansel Kaba Kahan, S.Sos (Klub Indonesia Hijau).

Film ini bercerita tentang investigasi perusakan hutan dan ilegal loging di Indonesia, yang mengakibatkan bencana alam dahsyat di setiap daerah yang rusak ekosistemnya seperti banjir bandang dan tanah longsor yang kerap kali melanda daerah Nusantara. Rain Forest mengungkapkan secara gamblang siapa aktor dan dalang yang berperan dalam perusakan hutan Indonesia, serta perang antara lembaga pemerhati lingkungan melawan mafia kayu internasioanl. Ansel Kaba Kahan selaku nara sumber mengatakan, “lingkungan butuh pejuang untuk mempertahankan keharmonisan dan keberlangsungan hidup umat manusia khususnya anak cucu kita di masa depan”.

Turut hadir dalam acara tersebut, Pdt. Mathelda Yeanne Tadu S.Si selaku Pendeta Mahasiswa Yogyakarta sekaligus penasehat dan pendiri BSMJ. “Acara bedah film yang tayang perdana malam ini sangat berguna, karena kembali merefleksikan diri kita pada arti keberpihakan nyata terhadap lingkungan hidup” ujar beliau. Tak lupa beliau berpesan agar kaum muda siap menerima dan melanjutkan tongkat estafet sebagai penjaga lingkungan. Dipenghujung acara, seluruh peserta bersama-sama mengucapkan selamat hari lingkungan hidup, dan berjanji bahwa saya adalah penjaga bumi (I’am an earth keeper). SRB