(Semiloka Gereja Peduli Lingkungan
“Merawat Lingkungan Berbagi Kehidupan” Gereja
Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah (SW) Jawa Tengah)
Krisis lingkungan hidup
(ekologis) merupakan masalah besar yang menjadi ancaman bagi keberlangsungan kehidupan di bumi.
Perubahan iklim merupakan salah satu contoh nyata yang mengakibatkan berbagai
bencana di muka bumi. Selain itu, perubahan iklim
juga mengacaukan keseimbangan alam
termasuk rusaknya sistem pertanian yang berakibat pada ancaman terhadap ketersediaan pangan. Krisis
tersebut tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia dan gaya hidupnya yang
eksploitatif terhadap alam. Manusia hanya memikirkan apa yang baik bagi spesies
manusia dan bahkan tak segan-segan mengorbankan mahluk hidup lainnya.
Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah (SW) Jawa
Tengah menyadari panggilannya untuk merawat dan berbagi kehidupan sebagai
bagian dari Misi Allah untuk memelihara dan menjaga keutuhan ciptaan. Oleh
karena itu, Departemen Kesaksian dan Pelayanan GKI SW Jateng mengadakan
Semiloka Gereja Peduli Lingkungan dengan tema “Merawat Lingkungan Berbagi
Kehidupan”, pada tanggal 14 – 16 November 2013
bertempat di Griya Sejahtera
Ngablak, Kopeng Jawa Tengah. Harapannya,
Semiloka ini dapat menghasilkan perspektif GKI (SW) Jateng atas krisis ekologis
yang terwujud dalam usulan garis besar arahan dan perencanaan program terkait
lingkungan hidup. Selain itu, Semiloka ini juga menghasilkan rencana tindak
lanjut berupa gerakan bersama yang dapat disosialisasikan dan direalisasikan
oleh Jemaat-Jemaat GKI SW Jateng baik di tingkat klasis maupun lokal.
Semiloka ini dihadiri oleh utusan dari masing-masing
klasis Sinode wilayah Jawa Tengah, Romo Andang L. Binawan, SJ. (Dosen STF Driyarkara-Jakarta & penggerak Sadar
Lingkungan Di Keuskupan Agung Jakarta) menjadi salah satu nara
sumber, beliau mengatakan manusia saat ini terjangkit sindrom NIMBY “ Not In My
Back Yard “atau tidak peduli dengan lingkungan, sampah bisa dibuang di mana
saja asal tidak merepotkan dan tidak mengotori wilayah saya.
Paradigma
lama tentang Kata “membuang sampah” hendaknya diganti dengan kata “menaruh
sampah” maka kesan sampah sebagai bahan buangan bisa diubah menjadi bahan yang
beguna bagi manusia. Usia sampah bisa diperpanjang dengan metode 3R (Reduce,
Reuse, Recycle). Jika pola ini telah mengakar pada masyarakat, maka dengan
sendirinya akan tercipta “habitus” sadar lingkungan yang sangat penting pada
upaya pelestarian lingkungan.
Turut hadir dalam dalam kegiatan ini BSMJ (Bank Sampah
Mahasiswa Jogja). Komunitas ini membagikan pengalaman sejarah terbentuknya
lembaga yang muncul ditengah keresahan akan semakin apatisnya kaum muda
khususnya mahasiswa Yogyakarta dalam melestarikan lingkungan. Bank sampah juga
bercerita tentang pengalaman mengelola sampah plastik dan berkebun di lahan
sempit dengan penyediaan kompos mandiri. Pengalaman kecil mereka diharapkan
dapat menginspirasi gereja untuk mulai melakukan sesuatu demi terciptanya
lingkungan hidup yang lestari bagi kelangsungan hidup manusia saat ini dan di
masa yang akan datang.
Semilloka tersebut menghasilkan pemetaan masalah : sampah
yang tidak dapat terurai, kerusakan ekosistem, alih fungsi lahan, polusi udara,
dan eksploitasi air, yang nantinya akan diangkat menajdi usulan garis besar arahan dan perencanaan program terkait
lingkungan hidup Gereja
Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah (SW) Jawa Tengah.

